Kalau melihat sinetron-sinetron atau film-film remaja tentang persahabatan, kayaknya seru banget. Apalagi kalau udah ada adegan curhat bareng. Kebersamaan rasanya indah sekali. Tapi, saat kita mencoba bersahabat, kok nggak seindah itu ya?
Terus bagaimana biar cerita persahabatan bisa happy ending seperti dalam film? Menurutmu, yang bisa bikin persahabatan langgeng itu adalah dengan berbicara secara terbuka setiap masalah yang dihadapi kan? Tapi bisa jadi sahabatmu justru berpendapat sebaliknya. Kan ada juga sahabt yang kalau tiap masalah diomongin kesannya cengeng banget? Iya kan?
Nah sekarang langsung kita bahas aja yukz serunya bersikap terbuka dan tertutup dengan sahabat.
Saling Terbuka
Saling terbuka artinya setiap hal diomongin bareng, kemudian dicari penyelesaiannya. Mungkin disini kalian berpikir "dua (atau lebih) kepala pasti lebih baik dari satu kepala". Mending kalau kalian berpikir dari sudut pandang yang sejalan. Jika yang terjadi sebaliknya, bisa ribut karena obrolan kalian jelas-jelas tujuannya berbeda.
Kebiasaan, sikap, nilai yang dianut, bahkan prinsip hidup setiap orang nggak sama. Bisa jadi, sesuatu yang dianggap olehnya, merupakan hal nggak penting buat kamu, atau sebaliknya. Kalau udah gini, kemungkinan untuk tersinggung juga besar kan?
Kalau semua masalah dibicarakan bersama, dibahas bareng dan juga bareng-bareng cari solusinya, kapan kamu bisa mandiri? Coba deh pikirin sepuluh tahun yang akan datang. Bisa jadi kalian tinggal di kota atau bahkan negara yang berbeda. Masa sih kamu mau nangis sendiri cuma karena nggak ada sahabatmu?
Keterbukaan dalam tingkat ekstrim bisa bikin kamu dan sahabtmu nggak punya privasi. Mumpung belum jadi artis yang tiap hari dikejar-kejar wartawan, nikamtin deh kesempatan punya privasi. Oceey!
Oya, yang aku maksud saling tertutup disini bukanya nggak ada komunikasi sama sekali. Komunikasi tetap ada, tapi diluar masalah pribadi.
Saling Tertutup
Bisa dibilang ini tipe bersahabat 'profesional', yang artinya kalian cuma membahas masalah yang berhubungan dengan sekolah atau hal-hal umum. Hmmh... kayaknya nggak asyik ya? Boro-boro bisa curhat, cerita soal cowok kelas sebelah yang lucu aja kayaknya udah keluar jalur ya? Hehehe!
Nggak bertukar cerita bukan berarti nggak mendengarkan sama sekali kan? Disini kemampuan kalian jadi pendengar diuji.
Nggak semua hal mesti diomongin. Di sinilah kemampuan memahami bisa jadi lebih penting dari terbuka atau tertutupnya gaya suatu persahabatan. Saat temanmu menangis, sebagai sahabat pasti kamu bisa melakukan hal yang bikin sahabatmu nyaman.
Tapi kalau terus-terusan diam diam dan tertutup satu sama lain, basi juga ya?
Nah kalau memang karakter kamu dan sahabatmu beda jauh dan sulit untuk mencari jalan keluarnya, paling nggak pertimbangkan hal-hal diatas yach? Sehingga nantinya bisa mengambil keputusan apakah kalian akan tetap bersahabat di atas perbedaan atau menyamakan perbedaan itu.
That's ur choice, girl!
Sabtu, 05 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)













Tidak ada komentar:
Posting Komentar